Selangkah menuju kepunahan

Status orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) kini naik dari Endangered menjadi Critically endangered. Orangutan kalimantan kini bergabung dalam status yang sama dengan orangutan sumatra yang terlebih dahulu masuk dalam ketegori tersebut sejak 2008. Itu artinya selangkah lagi orangutan di Indonesia akan menghadapi kepunahan dialam liar. Status ini berdasarkan pada daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) terbaru.

2C3C575900000578-3232319-Barely_alive_this_baby_orangutan_clutches_her_dying_mother_who_s-a-1_1442306982487

Tentu ini adalah buah kegagalan dari upaya konservasi orangutan di Indonesia selama ini. Setidaknya 2000 orangutan mati tiap tahunnya. Banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan tersebut. Yang paling major adalah alih fungsi hutan yang menggusur kantong-kantong habitat orangutan, efek dari kebijakan kehutanan di indonesia.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah justru jauh dari upaya perlindungan terhadap hutan. Kita ambil contoh proyek MP3EI (Master Plan Percepatan, Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia), sebuah pola perencanaan untuk mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan kemakmuran yang sangat ambisius. Hasilnya eksploitasi tambang dan hutan secara luar biasa terjadi.

Kita tahu bumi Kalimantan adalah salah satu pusat Industri sawit Indonesia, selain juga tambang. Laju deforestasi sangat tinggi, hingga tahun 2013 saja, sudah 75% hutan kalimantan menghilang atau sekitar 3,2 Juta hektar pertahunnya.

Dikonversi menjadi perkebunan, tambang, dan pemukiman. Pembukaan hutan dilakukan secara massive dan sporadis. Efeknya tidak saja terjadi pada orangutan, namun seluruh keaneka ragaman hayati, ratusan ribu spesies hewan dan tumbuhan hancur begitu saja.

Selama ini kita belum melihat upaya serius pemerintah untuk melindungi orangutansebagai satwa endemik Indonesia yang berharga. Kebijakan ekonomi justru memaksakan kebijakan kehutanan mengikuti alurnya. Alhasil, Kelapa sawit jadi penyumbang devisa besar bagi Indonesia.

Pada tahun 2011, Indonesia mampu menghasilkan 40,27% dari total produksi  minyak kelapa sawit dunia. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai Negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Proteksi untuk melindungi kran cash negara mulai dilakukan, mengancam siapapun yang berani menyerang Industri kelapa sawit. Pemerintah kita seperti belum belajar apa-apa setelah kebakaran hutan hebat yang terjadi beberapa waktu lalu.

Apa yang membuat orangutan unik dibandingakan hewan endemic Indonesia lainnya adalah karena orangutan memilikita DNA 97% mirip dengan manusia. Hewan yang memiliki kekeberatan paling dekat dengan manusia dan salah satu hewan dengan tingkat kecerdasan tertinggi didunia. Sayangnya, Orangutan adalah hewan dengan tingkat roproduksi yang sangat lambat. Dibutuhkan sekitar 7-8 tahun bagi induk orangutan untuk bisa memiliki satu anak.

Populasi orangutan turun drastis dari 288.500 ditahun 1973 hingga sekarang kurang dari 100.000 individu dialam. Melihat tren yang terjadi, diperkirakan angka tersebut akan terus turun hingga kurang dari 50.000, dan akan benar-benar punah dalam kurun 50 tahun kedepan jika tidak ada upaya perlindungan.

Upaya perlindungan satwa liar makin tercoreng dengan Lemahnya penegakan hukum. Kasus-kasus perdagangan satwa ilegal tidak mendapat hukuman yang setimpal. Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang keanekaragaman hayati di Indonesia mengatur hukuman untuk setiap pelanggaran adalah vonis penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal 100 juta.

Sayangnya, jarang ditemui kasus-kasus yang mendapat hukuman maksimal. Banyak kasus yang divonis hanya 2-3 tahun penjara, bahkan lebih rendah. Kasus terakhir yang terjadi terhadap pedagang kulit Harimau di Palembang hanya divonis 6 bulan penjara. Potret pilu dari penegakan hukum Indonesia.

Upaya konservasi NGO (non-governmental organization) yang concern bekerja sama dengan BKSDA sudah dilakukan dalam upaya membangun pusat-pusat penyelamatan atau rehabilitasi untuk orangutan. Tapi hal ini nampaknya tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Banyak konsep-konsep strategis dan advokasi kebijakan pemerintah yang diajukan oleh NGO, namun hanya sampai pada level-level pembahasan. Pada praktiknya, masih terbentur banyak sekali kepentingan politik dan ekonomi.

Seorang teman pernah mengatakan, “Upaya konservasi orangutan ibarat mengepel lantai yang basah namun tetap membiarkan kran tetap menyala”. Yang sudah dilakukan selama ini tidak menyentuh sumber masalah sama sekali. Selama hutan terus dibabat, orangutan dan banyak species lain akan terus jadi korban, termasuk manusia.

Rehabilitasi satwa hanya tindakan emergency yang terus menerus jika akar masalah tidak segera dibereskan. Kepunahan orangutan dan satwa endemik Indonesia lainnya tinggal menunggu waktu.

Tidak ada cara lain. Jika pemerintah serius menyelamatkan species ini, hutan yang tersisa saat ini harus dilindungi. Menjaga habitat-habitat satwa liar yang tersisa, tidak ada lagi pembukaan lahan hutan, dan yang tak kalah penting adalah memutus rantai perdagangan satwa. Kalau tidak, angka populasi orangutan dialam akan terus turun hingga mencapai level punah.

Pada akhirnya kita generasi sekarang akan disalahkan oleh genarasi berikutnya karena telah membiarkan sesuatu yang sangat berharga bagi Indonesia, salah satu hewan terpintar didunia, punah begitu saja. Anak cucu kita nantinya hanya belajar tentang sejarah orangutan. Kita seharusnya malu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s